Beberapa waktu yang lalu, ada seorang pasien anak laki-laki usia 7 tahun datang ke ruang praktek saya dengan diantar ayahnya. Saat itu ia terlihat sangat ketakutan, tak hentinya menangis dan berteriak, meski hanya untuk dilihat giginya tanpa disentuh. Saya minta pada orang tuanya agar dilakukan rontgen, karena saya melihat ada gigi yang bentuknya aneh.
Pada kunjungan berikutnya, dari foto hasil rontgen saya mendapati bahwa itu ternyata adalah gigi tambahan. Saya memberikan penjelasan pada si ayah bahwa ini tidak harus segera ditangani, nanti ditunggu agak besar saja penanganannya, dengan pertimbangan utama bahwa anak masih belum berani.
Tidak saya sangka, beberapa waktu setelahnya, mereka datang lagi. Si ayah minta agar gigi radix (berbeda dengan gigi yang dibahas sebelumnya) dicabut. Komunikasi dengan anak dijalin. Ia saya beri penjelasan mengenai tindakan anestesi dan pencabutan, tentu dalam bahasa yang ia pahami dan tak lupa disertai humor. Ia mengerti dan keberaniannya mulai muncul. Pada akhirnya, setelah mengerti, ia menyatakan bersedia untuk disuntik (untuk anestesi) dan dicabut gigi radixnya. Kunjungan berikutnya untuk pencabutan dijadwalkan.
Dengan rasa percaya diri yang cukup, si anak datang pada jadwal yang disepakati. Ia duduk sendiri di kursi gigi. Ketika dilakukan tindakan anestesi lokal, dengan tenang ia berkata bahwa ini nggak sakit, nggak apa-apa. Termasuk ketika dilakukan pencabutan ada sedikit kendala karena posisi dan ukuran gigi radix yang agak menyulitkan, ia tetap tenang sampai akhirnya gigi radix berhasil dicabut.
Selalu membahagiakan mendapat pengalaman seperti ini. Anak perlu diberi penjelasan yang benar, dalam bahasa yang ia mengerti, bukan ditipu hanya demi terlaksananya tindakan. Ini tentu tak lepas juga dari dukungan orang tua.
Sampai jumpa lagi Nak, semoga sehat selalu.